Warga Kendari Ditangkap Polisi Dalam Keadaan Sehat & Pulang Sudah Jadi Mayat

tribun.club - Perilaku sadis, keji dan tak manusiawi kembali dilakukan oleh polisi. Pada awal Maret 2016 lalu dan masih segar dalam ingatan masyarakat bagaimana sosok Siyono, warga desa Pogung, Cawas, Klaten, Jawa Tengah (Jateng) yang ditangkap Densus 88 dalam keadaan sehat, namun beberapa hari kemudian dipulangkan sudah menjadi mayat.


Kejadian yang hampir sama pada awal Ramadhan 1437 H atau bulan Juni 2016 ini juga terjadi pada warga Kendari bernama Abdul Jalil alias Jalil. Warga Kelurahan Tobimeita, Kecamatan Abeli, Kota Kendari, Sulawesi Utara (Sultra) itu meninggal dunia sesaat setelah ia diamankan polisi dari rumahnya.

Jika Siyono dituduh sebagai teroris, sedangkan Jalil dituduh sebagai begal. Lelaki berusia 25 tahun ini ditangkap pada Senin (6/6/2016) malam lalu karena diduga sebagai pelaku begal, dan sudah lama diburu. Ketika ditangkap ia sehat, namun tak sampai 8 jam kemudian Jalil sudah menjadi mayat.

Polisi menyebut bahwa lelaki yang bekerja sebagai honorer di Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) Sultra itu meregang nyawa karena kehabisan darah, setelah betisnya di tembak polisi. Walau jarang ditemukan adanya kasus betis berdarah yang sampai membuat orang dijemput ajal, tapi seperti itulah hasil visum Dokter Kepolisian di RS Bhayangkara, Kompol Mauluddin.

“Jalil meninggal akibat pendarahan betis kirinya. Pendarahaan akibat peluru yang mengenai korban,” katanya, kemarin saat dikonfirmasi.

Pada hari Senin menjelang tengah malam, sekelompok anggota polisi mendadak memenuhi rumah Jalil di Abeli. Nama lelaki itu muncul setelah kawannya bernama Ambang yang selama ini menjadi Daftar Pencarian orang (DPO) beberapa saat sebelumnya tertangkap dan menyebut pihak-pihak yang membantunya beraksi. Malam itu, jajaran Buru Sergap Polres Kendari dipimpin Ben Boy.

Menurut ibu Jalil, yakni Rahmatia, ketika para polisi datang ke rumahnya tak menyodorkan surat perintah penangkapan, dan anaknya langsung disergap. Demi menghargai kinerja aparat, sang ibu meminta anaknya untuk taat.

“Dia dibawa baik-baik pak, anak saya juga tak melawan. Ehh, kenapa pagi-pagi saya mau pergi besuk di Polres, sudah jadi mayat mi kasian,” ungkap Rahmatia seperti dilansir Kendari Pos pada Kamis (9/6/2016)

Rahmatia tak tahu persis dimana tepatnya anaknya meninggal dunia. Apakah di tahanan polisi, atau di rumah sakit Bhayangkara. Yang jelas, ketika perempuan itu tiba di Mapolres sekira pukul 10.00 Wita pada Selasa (7/6/2016) lalu, hanya kabar bahwa anaknya sudah tak bernyawa yang ia peroleh. Ia hanya menduga, ada yang salah dalam penanganan anaknya hingga kemudian berakibat pada kematian.

“Polisi harus tanggung jawab. Mereka datang tangkap anak saya tanpa perlawanan. Kenapa pagi sudah sudah mati,” katanya dengan linangan air mata.

Selain ibunya, kakak Jalil bernama La Abu juga ikut protes. Abu mengutuk keras sikap kepolisian yang ia sebut sudah “membunuh” adiknya. Abu menganalisa kematian adiknya karena ulah polisi yang sengaja menyiksa dan menembak demi memperoleh pengakuan soal keterlibatan adiknya dalam aksi begal yang diotaki Ambang.

Abu menuturkan kasus ini harus diproses apalagi polisi belum dapat menyatakan secara resmi apa penyebab kematian adiknya itu. Hari Selasa (7/6/2016) sekitar pukul 11.00 Wita, ibunya memang sempat menanyakan hal itu kepada pihak Polres dan hanya dijawab bahwa Jalil meninggal karena riwayat penyakit yang diidapnya selama ini.

“Kami tanya Wakapolres dan Kapolres. Anak saya mati karena apa? eh, mereka balik nanya soal riwayat penyakit keluarga kami. Ketika ibu saya sebut kakek saya ada riwayat penyakit. Mereka bilang penyebabnya gara-gara itu. Kan itu aneh,” cerita Abu bersama ibunya.

Ketika dikonfirmasi soal kematian Jalil, Kapolres Kendari, AKBP Sigid Hariyadi S.IK mengatakan pihaknya belum dapat menduga penyebab kematian yang bersangkutan.

Kapolres membenarkan bahwa anak buahnya memang melakukan penangkapan pada Senin (6/6/2016) malam lalu karena Ambang dan Jalil diduga terlibat banyak kasus diantaranya begal. Dia memastikan jajarannya menangkap Jalil sesuai ketentuan, dan ada alat bukti yang dimiliki.

“Soal hasil visum, yang meninggal karena pendarahan di betis, itu karena yang bersangkutan melawan saat ditangkap. Makanya ditembak. Ibaratnya anda lakukan perlawanan karena saya sebut tersangka, masa kami hanya diam. Pasti kita tembak. kan begitu (prosedurnya),” kata Kapolres sambil tersenyum ketika ditemui pada Rabu (8/6/2016).

Akan tetapi alasan polisi ditepis oleh keluarga Jalil. Ibu jalil dan Zahra, adik Jalil menegaskan bahwa Jalil tak melakukan perlawanan saat diringkus oleh polisi. “Kakak saya ditangkap dengan tuduhan melakukan begal atau penganiayaan. Saat ditangkap kakak saya tak melakukan perlawanan,” ujar Zahra pada Kamis (9/6/2016).

“Meskipun korban pasrah saat diringkus, namun polisi tetap mengikat kedua tangan korban dengan tali sepatu bapak saya,” tandas Zahra.

Sumber : Manjanik.net

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Warga Kendari Ditangkap Polisi Dalam Keadaan Sehat & Pulang Sudah Jadi Mayat"